Acknowledgement:
Jadi sebelumnya gue udah baca karyanya Mbak Renita Nozaria lewat wattpadnya. Judulnya itu Dream Launch Project. Tokoh utamanya: Nana (Jaemin), Jeno (Jeno), dan Injun (Renjun). Gue suka banget sama persahabatan mereka dan udah lama banget namatin novelnya, makanya gue kangen. Apa yang akan gue tulis selanjutnya nggak dimaksudkan buat memplagiasi karya beliau. Ini hanya bentuk kekangenan dan kehaluan gue yang pengen kisah persahabatannya kayak mereka #LOL. So here's mine, dan tokohnya, gue nggak pake visualisasi Jaemin, melainkan Haechan karena gue pikir lebih cocok aja ama personanya.
#SCENE Gaje 1
Perhatian Juna yang sebelumnya berada penuh pada seporsi bakso yang belum habis, beralih menatap sahabatnya.
"Ini bucin kenapa lagi dah."
Sebelum Juna menanggapi, didengarnya Bara menyahut.
Perhatiannya kini tertuju pada Bara yang baru saja habis dari kamar mandi, kemudian manggut-manggut setelah sadar apa maksud dari perkataannya. Kalau aura Jeno sudah menguarakan bau-bau emo seperti ini, kemungkinan besar pasti berhubungan dengan titel bucin yang masih tersemat padanya sejak mereka masih sama-sama berada di bangku SMA.
Dari kelas satu SMA, Jeno itu hanya suka pada satu orang, namanya Bunga. Nah, begonya dia, meskipun ganteng dan langganan nerima penghargaan sehabis upacara, orangnya cupu dan pemalu banget. Kalau dia sepapasan (baik kebetulan atau disengaja) sama Bunga, selalu aja pasang muka dingin seolah-olah nggak peduli dan nggak menganggap ada eksistensi cewek itu. Tapi kalau acara papasannya udah selesai, dia sibuk nampilin muka nahan boker yang bikin Juna sama Bara gondok abis. Gimana enggak, awalnya sok cool, tapi giliran si pujaan udah pergi jauh, malah nyesel sendiri. Padahal eh padahal, Jeno sama Bunga itu satu kelas di tempat les masuk perguruan tinggi dekat sekolah mereka! Apa salahnya coba nyapa doang!
"Kenapa elo yang malah geleng-geleng kepala sambil senyum gitu, Jun?" Sahutan Bara membawa Juna kembali ke masa sekarang, diikuti tatapan menyelidik dari dua temannya.
"Inget kebegoan Jeno jadi bucinnya Bunga."
Mendengar itu, Jeno langsung mengerang, lantas melemparkan bantal hingga hampir saja, jika Juna tidak cekatan melindungi mangkuk baksonya, bakso itu akan berakhir di atas lantai yang belum mereka sapu selama seminggu. Hal itu tentu akan berakibat fatal dan memungkinan terjadinya baku hantam.
"Eh, gila dia impulsif! Ni bakso kalo ampe tumpah, persediaan indomie lo buat seminggu, buat gue!" Juna membalas sewot. Yang disewotin malah membalas dengan menjambak pelan rambutnya, frustrasi sendiri.
"Lagian lo lagi kenapa emang, No? Pengecut apanya?" Bara, yang hampir selalu bertindak sebagai penengah di situasi hampir-terjadinya-baku-hantam-Jeno-Juna, pun memutus persewotan yang terjadi.
"Gw ketemu Bunga."
"HAH?! HAH?! DIMANA, GIMANA?!" Jeno melirik Juna sinis. Ini orang kalau denger bahan ghibah emang semangat abis. Tapi Bara juga terlihat tidak kalah antusias.
"Jadi gue lagi di perpusat, ya jalan kek biasa mau ke fakultas, terus tiba-tiba dari arah berlawanan... ada Bunga! Ya, lo tau sendiri lah, gue kan tinggi nih, otomatis gw lansung bisa ngespot itu anak walaupun masih jauh. Apalagi, dia keliatan nggak banyak berubah, gaes. Dan seperti sebelum-sebelumnya, gw dengan kegoblokan gw yang biasa, pas jarak kita udah deket, gw malah melipir menjauh dari jarak edar dia dan pura -pura nelpon orang, padahal hp gw lagi mati karena abis batre."
"Heh! Sebelum gw komen lebih jauh nih, ya, perlu amat apa lo ngasi tau kalo lo tinggi? Ya gue tau gw gak sampe 180an kayak elo tapi kan---" belum sempat Juna menyelesaikan kalimatnya, Bara sudah memotong disertai kening yang berkerut tanda berpikir keras.
"Bentar, bentar, kayak ada yang aneh. Emang Bunga lanjut studi di kampus kita? Bukannya dia ngambil teknik di Bandung?"
Ada jeda sebentar sebelum Jeno menjawab pertanyaannya.
"Iya, emang pasti terdengar aneh. Jadi semalem gw emang ketemu dia, di perpusat. Tapi untuk lebih spesifiknya, itu semua terjadi di dalam mimpi gue."
Mendengar itu, Juna langsung menghela nafas, jelas sekali nahan sabar dan godaan buat menoyor kepalanya Jeno. Bara hanya membalas dengan tersenyum tipis, tapi lumayan serem karena dibandingkan Juna yang ekspresif, Bara cenderung nggak ekspresif-ekspresif amat, tapi anggota tubuhnya yang lain biasanya yang bertindak ekspresif.
"Tiba-tiba tangan gue gatel banget mau nabok orang." Tuh, kan.
"Ayoklah, No, baku hantam aja kita! Kesel banget gw dengerin lo sampe mengabaikan bakso tersayang gw yg enak!"
Jeno langsung memeluk tubuhnya defensif, lalu mulutnya mencecar, membabibuta.
"Ih, dengerin dulu dong! Udah mau nabok gue aja! Kalian nggak nangkep esensi ceritanya!"
Kedua orang yang ditunjuk saling menatap.
"HAAAHH?!!" Lalu kompak memasang muka berbego-ria.
"Ya, padahal kan cuma mimpi, tapi pengecutnya ngikut dari dunia nyata. Kan lo pada tahu sendiri ini udah berlalu tiga tahun lebih dari terakhir gw ketemu dia di perayaan kelulusan kita. Nyatanya, gw masih takut buat sekadar nyapa, walau di mimpi sekalipun!"
Dari niat mengajak baku hantam, keduanya kini merasa kasihan. Akhirnya, baik Juna maupun Bara, menepuk pundak kanan-kiri Jeno pelan, bermaksud menenangkan. Karena di balik badan dia yang segede-gede gaban macam titan dan muka ganteng macam leader boyband Korea, dan, oh, juga jangan lupakan otak pintarnya yang sering diandalkan di berbagai lomba, Jeno ini sebenernya dalemnya kontras banget sama penampilan luarnya yang bikin anak-anak lain pada segan. Dan keduanya pun tahu, bentuk comforting sekecil apapun yang Jeno terima, pasti bakal berarti banget buat dia.
First draft-8 april 2020-seri JJB coz whynot-
Jeremy Novandrio (Jeno)
Arjuna [Iya, namanya Arjuna doang] (Juna)
Bintang Aldebaran (Bara)

Komentar
Posting Komentar