"Apa sih yang spesial dari kota ini? Menetap di sini juga nggak pernah, kan?" "Iya, ragaku memang nggak pernah tinggal lama. Tapi kenanganku tertinggal. Di antara malam yang gelap berbintang dan pemandangan hijau yang terhampar di kala terang. Oh, bahkan kedai mie tek-tek di persimpangan jalan bisa saja membuatku menangis ingin waktu diulang." "Kenapa?" Mata Fara menerawang, "Karena ayah masih ada," jawabnya sambil tersenyum getir, "Keluarga kita juga masih baik-baik saja. Si jalang belum singgah dan memilih tinggal." Sorot matanya tenang, namun penuh kebencian. "Kamu ingat, gak, Res? Setiap pergi ke rumah mbah, pasti kita mampir dulu ke sini." Saat itu malam. Kota yang dimaksud masih menyimpan definisi pedesaan, jadi keremangan membuat banyak bintang bersinar. "Ayah suka berkebun. Kita harus menyusuri jalan terus ke depan hingga ujung perbatasan hanya untuk membeli tanaman. Begitu melanjutkan perjal...
Kisah realita sehari-hari, beriringan dengan imaji yang diramu berdasar mimpi yang -mungkin- takkan pernah terjadi. Beberapa kisah lain merupakan ilusi cerita yang kubuat dalam imajinasi sendiri.