"Apa sih yang spesial dari kota ini? Menetap di sini juga nggak pernah, kan?"
"Iya, ragaku memang nggak pernah tinggal lama. Tapi kenanganku tertinggal. Di antara malam yang gelap berbintang dan pemandangan hijau yang terhampar di kala terang. Oh, bahkan kedai mie tek-tek di persimpangan jalan bisa saja membuatku menangis ingin waktu diulang."
"Kenapa?"
Mata Fara menerawang,
"Karena ayah masih ada," jawabnya sambil tersenyum getir, "Keluarga kita juga masih baik-baik saja. Si jalang belum singgah dan memilih tinggal."
Sorot matanya tenang, namun penuh kebencian.
"Kamu ingat, gak, Res? Setiap pergi ke rumah mbah, pasti kita mampir dulu ke sini."
Saat itu malam. Kota yang dimaksud masih menyimpan definisi pedesaan, jadi keremangan membuat banyak bintang bersinar.
"Ayah suka berkebun. Kita harus menyusuri jalan terus ke depan hingga ujung perbatasan hanya untuk membeli tanaman. Begitu melanjutkan perjalanan, pasti mobil terasa penuh seperti hutan." Sudut bibir Fara terangkat, matanya berair mengingat kenangan yang menyeruak masuk dalam relung pikirannya.
"Xenon sampai harus ngalah, nggak lagi tidur di kursi belakang karena kursi itu harus dilipat." Ares mengangguk, mengingat Xenon, kucing hitam mereka yang kini sudah berpindah dunia.
"Nggak.. aku nggak boleh nangis! Nggak ada gunanya. Kita masih punya ibu, iya, kan? Kita nggak boleh mengecewakan dia." Fara menyeka air mata yang mulai berjatuhan.
"Tapi kenapa.. orang sebrengsek itu.. kebaikannya masih saja aku ingat..."
Pertahanan terakhirnya terjatuh. Ares mendekat, merengkuh Fara yang mulai tertunduk dengan tetesan yang berjatuhan.
"Res, seandainya ayah sepenuhnya orang jahat, mungkin aku akan sukarela membencinya hingga detik ini. Andai dia meninggalkan kita sejak aku belum punya kemampuan mengingat apa-apa, mengingat kebaikannya, pasti rasanya tidak seperih ini ditinggalkan."
Ares mempererat pelukannya pada Fara.
"Far... gue nggak bakal ninggalin lo kayak ayah, nggak bakal."
Bisiknya pelan.
- ne -

Komentar
Posting Komentar