Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku. Empat tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, aku dan ibuku masih disibukkan oleh pesta kejutan ulang tahunnya yang kecil-kecilan kami adakan di rumah. Malam sebelumnya, aku dan ibuku sudah sibuk keliling departement store untuk melihat-lihat baju yang cocok untuk ayah pakai. Setelah itu, kami mampir ke toko roti untuk membeli kue ulang tahun beliau, lengkap bersama lilin angka empat dan dua, tiga untuk kemudian kue itu kami sembunyikan di bagian paling dalam kulkas.
Esoknya, pagi-pagi benar, aku dan ibuku akan membangunkan ayah dan memberi ucapan selamat ulang tahun padanya sebelum dia bersiap untuk berangkat kerja. Apa yang terjadi pada hari itu disimpan menjadi memori yang baik dalam otakku.
Tahun-tahun berikutnya, sudah lain. Tidak ada persiapan membeli hadiah, atau persiapan membeli kue ulang tahun. Yang ada hanyalah kecemasan dan rasa kecewa. Setelah kasus itu terungkap, ayah dipindahkan ke Palembang, maka aku dan beliau hanya bisa berhubungan dengan komunikasi jarak jauh melalui telepon genggam. Di ulang tahunnya yang ke-44, aku hanya dapat berbicara melalui video call. Ada yang aneh saat itu, karena beliau hanya memperlihatkan wajahnya, tidak dengan area yang ada di sekelilingnya. Apakah dia ada di sana? Jadilah aku benar-benar marah dan rasa curigaku meluap. Hari di tanggal yang sama seperti tahun lalu, tidak menjadi memori yang baik dalam otakku.
Tahun 2019 adalah tahun penutup yang menyudahi semuanya. Pilihannya yang bukan aku dan ibuku, serta kepergian kami ke Jakarta. Di ulang tahunnya yang ke-45, aku hanya bisa mendengar suaranya. Dia baru dibebaskan. Kami bertukar kabar dan saling memberi doa agar sama-sama menjaga kesehatan. Mataku berair dan aku nyaris terisak. Beliau berkali-kali meminta maaf karena tidak menjadi sosok ayah ideal bagi diriku dan aku juga melakukan sebaliknya. Bagaimanapun juga, aku jauh dari titel anak baik yang tidak manja dan merepotkannya.
Sejak aku hampir membanting ponsel karena tanggapannya saat kuberitahu aku diterima di salah satu PTN di Jakarta, baik aku maupun beliau tidak lagi bertukar sapa maupun cerita lewat suara. Aku membencinya, meski di saat bersamaan juga merindukannya. Membencinya karena pilihannya yang mengabaikan aku, tetapi juga merindu hebat sebab, bagaimanapun juga, dia ayahku. Bagaimanapun juga, aku anaknya.
Di durasi waktu tanpa saling berkabar, baik aku dan ibuku terus menitip doa. Agar hatinya dilunakkan, agar hati keluarganya dilunakkan, agar hati kami dilunakkan. Agar aku tidak lagi menyimpan rasa benci padanya, agar beliau tidak lagi menyimpan rasa benci padaku, pada ibuku.
Aku dengar nenek dari ayahku jatuh dari pohon saat beliau hendak memanen buah yang telah masak. Inginku adalah menghubunginya, bertanya bagaimana kabarnya, apa sudah mendingan? Tapi aku takut. Terlalu takut. Takut tidak diterima, takut hanya dikira basa-basi saja, dan takut jika nenekku tidak mengharapkan telepon itu. Hingga di suatu malam, saudara sepupu jauhku mengabariku mengenai kondisi nenek. Aku sudah tahu. Tapi aku berlagak tidak tahu. Tiba-tiba, ada ingin yang begitu besar untuk berkomunikasi dengan nenek yang kabarnya masih terbaring di ranjang rumah sakit. Jadilah malam itu, aku melakukan video call dengan nenekku (selanjutnya aku akan memanggilnya mbah, karena memang begitulah aku biasa memanggilnya. Mbahku menangis, dia merindukan aku. Dia ingin aku ke sana dan benar-benar menjenguknya. Aku mengatakan, aku tidak bisa. Aku takut. Takut jika kehadiranku tidak betul-betul diharapkan oleh keluarga itu.
Mbah meyakinkanku sambil terus menangis dan mengatakan bahwa dirinya sedang sakit. Beliau memintaku agar video call malam itu dihubungkan pada ibuku. Dibandingkan aku, ibuku jauh lebih takut. Karena seingat dia, terakhir kali ibu mendengar tentang mbah, yang tersampaikan hanyalah kebencian dan rasa tidak suka. Tetapi malam itu, baik ketakutan ibuku maupun ketakutanku, tidak terbukti benar. Mbah dan ibu justru saling meminta maaf dengan tetes air mata yang berjatuhan antarkeduanya.
Malam itu, kami berdua lega, karena doa yang kami titipkan pada Allah, perlahan terjawab.
14 Maret 2020.
Awalnya aku ingin membuat tulisan ini di malam sebelumnya, menceritakan bagaimana di tahun-tahun sebelum tahun ini, malam sebelum tanggal 14 Maret itu dihabiskan. Tetapi, aku ketiduran dan kewalahan dengan perasaanku sendiri. Pagi ini, aku memberanikan diri untuk menghubungi ayahku lagi setelah sekian lama. Bagaimanapun, ini adalah hari ulang tahunnya. Dan aku, sudah cukup lelah membohongi diriku sendiri kalau aku sebenarnya merindukannya. Sekitar jam 8 pagi, panggilan pertama. Tidak diangkat. Spekulasi bermunculan di antaraku dan ibuku. Aku tidak begitu mengambil pusing karena ya, ya sudahlah, pikirku.
Sekitar jam 9 pagi, aku masih melakukan mandi wajib di kamar mandi saat ibuku dengan hebohnya menggebrak pintu kamar mandi dan mengabari, ayah meneleponku balik. Hanya dalam waktu sepersekian detik, aku diharuskan mempersiapkan diri. Begitu telepon kuangkat dan suaranya terdengar, aku ingin menangis.
Apa kabar? Masing-masing dari kami bertanya demikian.
Selamat ulang tahun, Ayah. Selama beberapa saat, aku tidak memperoleh tanggapan hingga samar, kudengar suara terisak di sebrang sana. Mataku ikutan berair dan aku menahan diri sekuat mungkin untuk tidak ikut menangis. Kalau aku menangis, aku tidak bisa bicara dan pesanku jadi urung tersampaikan. Beliau menjawab iya dan terima kasih dengan suara parau.
Semoga Ayah bahagia dengan pilihan Ayah sekarang. Respon yang sama terdengar, hanya kali ini isakan itu terdengar lebih jelas. Buliran air mata yang hendak jatuh semakin kuat kucoba tahan. Kali ini, nggak boleh nangis lagi.
Setelah berlalu hampir empat menit, pembicaraan kami dicukupkan. Ibuku menghela nafas lega. Beliau berkata, lega hatinya jika hubungan ayah dan anak kembali tercipta setelah sekian lama. Aku juga ikut lega, karena sekarang beliau tidak lagi melarangku menghubungi ayah. Aku lega, rasa bencinya sudah reda. Dan pada akhirnya aku pun lega, karena ternyata, ayah tidak melupakan aku.
- ne/ Fara's side story -
14/03/2020

Komentar
Posting Komentar