Langsung ke konten utama

Ceritaku di FUKI: Birdepku dan Teman yang Kukagumi


Namanya Deandra Lathifa Suriyya, seseorang yang dari awal mati-matian kujauhi karena auranya yang kuat sekali dan selama kami berinteraksi, aku tahu aku tidak begitu cocok berteman lebih dari sekadar kenalan dengannya. Pemikiran itu terus tinggal dalam pikiranku hingga keputusanku untuk bergabung di salah satu lembaga dakwah fakultas mengubah nyaris keseluruhan pandanganku terhadapnya.

Dari awal, terselip rasa kagum dalam diriku pada sosok Deandra, meski dimulai dari rasa sangsi jika melihat langsung sosoknya yang ceriwis, supel, dan menurutku saat itu, terlalu abroad dalam bergaul. Bahwa, aku tidak menyangka kalau dia adalah seorang hafizah. 5 juz. MasyaAllah. Penampilannya layaknya rockstar, jika bisa kukatakan demikian. Bukan dengan jaket kulit, tindikan, atau gaya metal semacamnya sih. Cuma personanya aja yang saat itu kulihat demikian.

Kemudian rasa kagum mulai itu menerpa kian hebat ketika penempatan posisiku di dalam LDF itu diumumkan. Namaku tidak ditampilkan bersamaan dengan biro departemen (kemudian aku tulis birdep) yang kuinginkan. Pilihan pertamaku adalah MuC (Muslimah Center). Muslimah Center adalah birdep yang dakwahnya lebih terfokus tentu saja kepada muslimah. Pilihan keduaku, aku bimbang. Antara KMF (Kesejahteraan Mushola Fasilkom) dan Alquran. KMF adalah birdep yang berada dalam zona nyamanku. Selain karena sebelumnya aku pernah magang di birdep itu, birdep itu juga berisi proker Buku Fuki yang aku sukai. Di lain pihak, aku juga mulai tertarik belajar dan mencemplungkan diriku lebih dalam di birdep Alquran. Pada akhirnya, zona nyamanku menang dan aku memilih KMF. Jadi finalnya, aku diwawancarai oleh masing-masing ketua birdep yang pada akhirnya justru bukan yang menjadi ketua birdep yang menaungiku sekarang.

Saat pengumuman peserta yang lolos seleksi, tidak diumumkan aku akan ditempatkan di birdep mana. Hanya tertera kalimat persuasif yang mengatakan jika kami penasaran dan ingin tahu, maka datanglah di acara Welcoming Staf yang waktu itu diadakan sebelum maghrib. 

Ya Allah, tolong tempatkan aku di birdep yang terbaik menurut-Mu. Tapi aku pengennya yang aku pilih sih ya Allah, tapi ya... Engkau lebih mengetahui yang terbaik dibandingkan hamba. 

Jeng-jeng, bukan MuC atau KMF, namaku justru muncul di slide saat ketua-waketua birdep Alquran tampil memperkenalkan diri dan birdep mereka. It's bittersweet buatku, sweet karena ternyata ditempatkannya nggak jauh-jauh dari keinginanku di awal, meski bukan di prioritas keinginan satu dan duaku, tapi tetap saja, nggak bikin aku kecewat betul. Yang bikin bitternya adalah karena mayoritas stafnya adalah laki-laki (ketua dan waketua juga), yang perempuan hanya aku dan... Deandra. Benar-benar bikin aku gelisah. Aku tidak begitu kenal dengan ketua dan waketuanya, bahkan sempat agak takut dengan si ketua karena aku pernah lihat dia pas "kumpulan anak laki-laki pacil berusaha untuk tetap salat jumat meski hujan turun begitu deras bermodalkan banner acara organisasi kampus", dan saat itu muka beliau benar-benar sangar (jika Kakak membaca ini, maafkan saya dengan narasi barusan)   khas muka kakak-kakak komdis. Belum lagi staf yang lain yang aku nggak begitu kenal, dan... Deandra. 

Seperti yang kunarasikan di awal tentang sosok Deandra, aku dan dia itu tidak begitu dekat dan memang aku cenderung menghindari interaksi dengannya. Lalu Allah justru menempatkan aku di birdep yang sama... ya ampun. Kejutan benar. Jadi ketika ketua birdep MuC memberiku selamat, aku hanya bisa tersenyum meski hatiku nggak begitu ngikutin mimik wajahku, maksudku, why are you like this? Omong-omong, Deandra tidak datang malam itu. 

Dan kejutan dari semuanya, berawal dari situ. Setelah acara penyambutan staf baru selesai, masing-masing birdep diharapkan kumpul buat pengenalan lebih dalam antarmasing-masing staf dan kabiro-wakabironya.

"Yok, Alquran di sini, Alquran." 

Oh, kakak sangar waktu itu, pikirku pada Kak Restu, kabiroku saat dia sibuk mengumpulkan dan mengenali wajah anak-anaknya.

Eh, loh, kakak ini kayaknya yang sering baca tilawah kalo ada acara FUKI deh, pikirku saat melihat Kak Ahsan, wakabiroku, mendekat di kerumunan kami; kemudian pikiran tersebut berlanjut, doi mirip Hanif temen w pas SMP, ya gaksih? - bertanya pada diri sendiri. (catatan: tolong dipahami bahwa aku menyamakan penggunaan kata ganti dia dan doi, penggunaan doi di sini bukan dimaksudkan untuk memberinya identitas sebagai orang yang kusukai).

Ah, Rafi yang waktu itu bantuin pas lab DDP1, ujarku dalam hati begitu bertemu pandang sekilas dengan Rafi, yang sepertinya salah satu staf birdep Alquran juga. 

Keknya dia anak Maung (Fasilkom angkatan 2019) deh, komentar pertamaku begitu melihat Rafli, staf birdep Alquran yang lain.

Kemudian, kejutan pertama dimulai ketika aku mulai berinteraksi dengan Si Kakak Sangar. Menemukan kenyataan bahwa sosoknya nggak sesangar persona yang dia tampilkan saat aku lihat dia pertama kali dulu. Parah benar aku ini memang dalam menjudge orang. Beliau memperkenalkan birdep Alquran secara singkat diikuti penambahan penjelasan lain oleh Kak Ahsan. Saat Kak Ahsan menjelaskan, aku harus beberapa kali menyuruh pikiranku diam saat pikiran ini terus-terusan bilang, "Asli Nir, mirip banget Hanif. Cuma lebih kurus aja dibanding doi." Hahaha.

Terus ternyata selain Deandra, ada Naufal yang juga tidak bisa hadir malam itu. Maka setelah kuhitung, birdep kami terdiri dari tujuh orang, dengan hanya dua perempuan. Izinkan aku menghela nafas lebih berat ketika mengetik fakta ini. 

Malam itu adalah pertemuan pertamaku dengan kabiro, wakabiro, dan staf sebagai bagian dari Biro Departemen Alquran. Ini kenang-kenangan dari Kak Restu dan Kak Ahsan, selain susu ultra (aku dapat rasa cokelat):


Kejutan kedua dimulai ketika ada makrab staf FUKI 2020. Awalnya aku enggan ikut karena kan, acaranya menginap. Tahu sendiri, aku ini mudah was-was dan selektif banget masalah istinja dan pertoiletan. Takutnya malah bikin pusing sendiri jika nanti mau istinja tapi wc-nya bikin penyakit was-wasku akan najis kumat lagi. Meski begitu, pada akhirnya aku ikut juga, walaupun izin telat baru bisa ke sana setelah isya. Ternyata saat sampai, aku sudah di penghujung acara. Tidak begitu ingin aku menjelaskan pematerinya saat itu membicarakan apa karena aku tidak begitu suka dengan cara beliau menyampaikan (maafkan aku). Jadi langsung saja, setelah acara itu selesai, ada game dengan tujuan agar kita bisa saling mengenal staf antarbirdep. 

Semua orang membuat lingkaran. Akhwat dan ikhwan terpisah bermainnya. Babak 1. Semua orang berpencar, saling kenalan satu sama lain. Aku masih segan berkenalan dengan staf yang juga merangkap sebagai kating saat itu. Ibarat kekaguman itu poin, poin kekagumanku dengan Deandra bertambah karena dia dengan begitu supel dan dan santainya mengajak kating-kating itu berkenalan. Mungkin ada yang beranggapan kalau hal itu gampang juga, tapi menurutku, susah. Banget. Oke, lanjut ke permainan. Satu orang di tengah bebas menunjuk satu orang. Dua orang yang mengapit orang yang sebelumnya ditunjuk wajib cepat-cepatan menyebutkan nama dan asal departemen lawan mainnya. Aku langsung mengambil ancang-ancang. Riza, Syitif. Fina, KMF. Jadi begitu sampai pada giliranku, aku langsung ngegas nyebut namanya Riza dan birdep yang menaunginya. Kebetulan, Deandra berada di sebelahku, dia langsung komentar. 

"Wideeh (baca: widiih tapi agak dibelokkan ke "e"), bangga birdep Quran, Wan." Aku membalasnya dengan nyengir saja, walau hatiku merasa tersentak. Maksudku, aku cenderung tak acuh dan sungkan terhadapnya, tapi dia justru menyambutku hangat. 

Kemudian, yang membuat poin kekaguman itu penuh adalah saat tiba waktu salat tahajud menjelang subuh berjamaah. Deandra ditunjuk jadi imam. Bukan tanpa alasan, bacaan dia itu... masyaAllah bagus sekali. Merdu sangat, tajwid dan makhorijul huruf di surah-surah yang dia baca juga menurutku sudah tepat. Hatiku dibuat bergetar melalui lisannya yang membacakan ayat-ayat-Nya. 

Malam itu juga, aku merasa malu pada diriku sendiri. Sungguh, benar-benar malu. 

Tahu apa yang membuatku lebih malu lagi? Ketika Deandra bilang saat aku menemaninya mengisi ulang air mineral di rapat rutin kami yang pertama.

"Wan, gw seneng loh, partner cewek gw di Alquran itu elo." Deg! Apa-apaan ini, kenapa dia justru bersikap baik? Aku makin kehilangan muka dan gelagapan dalam menanggapi. Maka aku hanya terkekeh sembari dengan impulsif menjawab.

"Ra, gw dulu takut tau sama lo." Gantian dia yang tampak kaget.

"Lah, kenapa dah?"

"Yah... lo keren aja gitu, aura lo kuat banget." Lo juga terlihat deket banget sama Alquran, lingkup pergaulan lo luas... tapi nggak bikin lo gampang tersesat. Lo berpendirian kuat, jujur, gue iri. 

"Kuat begemana dah, Wan?"

"Nama, Deandra Lathifa!" Aku menirukan gayanya saat akan berpendapat saat MK (Malam Keakraban). Dia ketawa. Aku juga ketawa. Ternyata dia nggak serem-serem amat ya aslinya, astaga.

Kali terakhir aku berinteraksi dengannya adalah saat kami berdua mempersiapkan acara Klinik Quran. Klinik Quran adalah salah satu acara yang ternaung dalam proker Quran Day (membaca Alquran pada satu hari setiap minggu), Komunitas Quran (proker yang mewadahi para mahasiswa/i yang sama-sama ingin menambah atau murojaah hafalannya), dan Abata   Ayo Belajar Tahsin (mewadahi para mahasiswa/i yang ingin membenahi bacaan Qurannya). Klinik Quran dimaksudkan untuk mereka yang ingin mengecek, layaknya di klinik, terhadap bacaan Alquran mereka. Masing-masing diperiksa oleh dokter ikhwan-akhwat. Nanti diberi diagnosa: kronis, demam, atau sehat. Obatnya, kami menawarkan kebab. Yep, kebab.

Berkaitan dengan si kebab tadi, jadilah aku dan Deandra berdua berkolaborasi memanaskan kebab yang kondisi awalnya masih beku, masih dalam bentuk frozen food. Aku ke kosannya. Jujur aja, kecanggungan itu masih ada. Apalagi memang dasar aku orangnya pendiam, jadi ketika Deandra melempar lelucon pun aku masih bingung mau menanggapinya bagaimana. Orang menurutku nggak lucu-lucu amat (perhatikan fakta bahwa selera humorku aneh dan jelek sekali, banyak kasus serupa di mana banyak yang tertawa tapi aku tetap bingung mereka menertawakan apa). Lebih banyak Deandra, sih, yang memulai percakapan, dan aku sangat menghargai usahanya. Dia ini keren sekali, pikirku. Omong-omong, kembali pada kegiatan hangat-menghangatkan kebab, kegiatan itu berlalu dengan aku yang kebanyakan diam.

Bottom line is, kita berdua masih sama-sama canggung, hahaha. Tapi setidaknya aku tidak lagi merasa segan padanya dan cenderung... jadi belajar banyak. Dari kesederhanaan perilakunya yang tidak cepat menghakimi orang lain, yang masih bisa melihat the good in the bad dari orang-orang di sekitar dia. Gimana dia bisa menjaga hafalannya dan terus menambah setoran di MUI (Masjid Ukhuwah Islamiyah UI). Dan yang terpenting, bagaimana dia menghandle orang seperti aku.

Ketika aku meminta sama Allah untuk ditempatkan di birdep yang terbaik menurutnya, sepertinya sekarang aku mengerti, kenapa Allah memberiku amanah berada di birdep Alquran dibanding birdep pilihanku sendiri.

- ne/ 12-13 Maret 2020 -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SI Itu Sistem Informasi, Bukan Sastra Inggris

 Assalamualaikum. Wah, ternyata udah lama banget nggak nulis di sini. Dan nggak kerasa juga, gue udah sampe di penghujung waktu kelulusan (aamiinn, doain aja ye) dari fakultas tercinta gue ini. Asekk.. setelah sekian lama nyimpen ketidaksukaan, akhirnya gue  surrender  juga. Berasa jadi kayak enemy to lovers   relationship  gini sama fakultas sendiri. Yah, kalo dibandingin sama post 1 Desember 2019 lalu yang katanya pengennya masuk Sastra Inggris sih, sekarang gue justru bersyukur banget nggak jadi masuk di jurusan itu, awokwowkwk. Pengalaman ngambil matkul eksternal di fakultas sebelah bener-bener ngerubah cara gue memandang "keberuntungan gue diterima di fakultas gue" sendiri. Gue masih nggak gitu suka kalo ketemu error  pas lagi ngoding, tapi anehnya, gue mulai merasakan kesenangan tersediri dalam proses ngulak-ngulik kode yang gue bikin. Dan lebih seneng banget lagi kalo kodingan gue berhasil, hehehe. Terus Alhamdulillah-nya, temen-temen satu angkatan g...

The Lamp Looks Weird..

Siang ini aku akan mulai menjalani sesi klasikal dalam rentetan agenda Latsar CPNS Tahun 2025 di Megamendung, Bogor. Sementara aku sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang harus aku bawa, di sisi lain rumah, ibuku tengah menyiapkan bekal makanan untuk perjalanan kami ke sana. Ya,  kami , karena di luar, sembari memanaskan mesin mobil, ayahku terlihat menyempatkan diri untuk menyiram tanamannya terlebih dahulu sebelum kami berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.11 ketika semua barang telah masuk ke bagasi mobil belakang. Kucingku, Nyunyun, bahkan sudah santai memposisikan dirinya seperti biasa di atas dasbor mobil. Kami benar-benar tinggal jalan saja, sebelum aku teringat kalau aku lupa membawa tabir suryaku. Jadi diiringi keluhan dongkol ibu, aku kembali beranjak ke dalam untuk mengambil tabir surya yang kuletakkan di meja rias kamar. Kegiatan itu menghabiskan waktu lima menit karena begitu aku masuk kembali ke mobil dan melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 07....
It wasn't much, but it was home.