Langsung ke konten utama

Bukan Kisah Tentang Rasa Peduli


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari Kamis. Aku sengaja bawa rapor. Kalo nginput nilai rapor semester 5, bisa dapat buku rumus. Itu iming-imignya. Hanya 50 orang pertama karena hanya ada 50 eksemplar buku.

Dan aku deg-degan.

Sering kali aku menjudge orang lain yang ambis seenak hati, tanpa sadar diri sendiri juga melakukan hal yang sama ke sana sini. Padahal udah lengkap dapet bukunya, kurang satu aja, tapi masih ngerasa kurang bersyukur.

"Nir, gw bareng lo, ya," aku respons dengan anggukan pada temanku, sebut saja namanya Fina.

"Yok!" Udah selesai siap-siap. Kunci motor udah dalam genggaman, tinggal jalan.

"Gw sholat Ashar dulu, boleh, nggak?" Aku mengangguk. Aku sedang berhalangan sholat.

"Ya udah lo sholat Ashar aja, tapi gw ke sana duluan bentar, terus ntar ke sini lagi."

Fulanah terdiam sebentar, "Ah, jangan lah kalo gitu. Ngerepotin malahan. Dah, gw bareng Dira aja." Gantian aku yang merasa tidak enak.

Di depan pintu kelas, kami berdua berpisah diselingi dengan dialog singkat:
"Fulanah, gak enak gini gw. Ntar line gw aja ya, gapapa gw balik lagi bentar."

"Gak laaah! Kaga enak gw!"

Sampai di tempat les. Dan aku ditohok mendapati kenyataan bahwa: Mbak Tempat Lesnya sedang sholat Ashar. Rasa bersalah langsung memelukku hangat. Padahal tadinya Fulanah bisa nebeng.
Ini teguran. Teguran.

Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, mbaknya datang. Aku pun langsung input nilai. Saat selesai input dan aku tanyakan tentang buku rumus, aku serasa ditampar lagi; bolak-balik.

"Ah, Mbak gak jadi bagiin lah. Gini, Nir, Mbak takut kalo dibagiin sekarang nanti yang lain pada merasa tercurangi. Nanti pada komen, 'masa dia dapet, saya kok belum' padahal kenyataannya kan buku yang baru datang emang cuma ada 50."

Aku sudah meninggalkan temanku, dan buku rumus tidak menjadi milikku. Sungguh keegoisan yang menggelikan. Betapa hebatnya cara Allah SWT untuk memberi teguran pada hamba-Nya.

Sekian.

Wassalam warahmatullahi wabarokatuh
Si Puyuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SI Itu Sistem Informasi, Bukan Sastra Inggris

 Assalamualaikum. Wah, ternyata udah lama banget nggak nulis di sini. Dan nggak kerasa juga, gue udah sampe di penghujung waktu kelulusan (aamiinn, doain aja ye) dari fakultas tercinta gue ini. Asekk.. setelah sekian lama nyimpen ketidaksukaan, akhirnya gue  surrender  juga. Berasa jadi kayak enemy to lovers   relationship  gini sama fakultas sendiri. Yah, kalo dibandingin sama post 1 Desember 2019 lalu yang katanya pengennya masuk Sastra Inggris sih, sekarang gue justru bersyukur banget nggak jadi masuk di jurusan itu, awokwowkwk. Pengalaman ngambil matkul eksternal di fakultas sebelah bener-bener ngerubah cara gue memandang "keberuntungan gue diterima di fakultas gue" sendiri. Gue masih nggak gitu suka kalo ketemu error  pas lagi ngoding, tapi anehnya, gue mulai merasakan kesenangan tersediri dalam proses ngulak-ngulik kode yang gue bikin. Dan lebih seneng banget lagi kalo kodingan gue berhasil, hehehe. Terus Alhamdulillah-nya, temen-temen satu angkatan g...

The Lamp Looks Weird..

Siang ini aku akan mulai menjalani sesi klasikal dalam rentetan agenda Latsar CPNS Tahun 2025 di Megamendung, Bogor. Sementara aku sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang harus aku bawa, di sisi lain rumah, ibuku tengah menyiapkan bekal makanan untuk perjalanan kami ke sana. Ya,  kami , karena di luar, sembari memanaskan mesin mobil, ayahku terlihat menyempatkan diri untuk menyiram tanamannya terlebih dahulu sebelum kami berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.11 ketika semua barang telah masuk ke bagasi mobil belakang. Kucingku, Nyunyun, bahkan sudah santai memposisikan dirinya seperti biasa di atas dasbor mobil. Kami benar-benar tinggal jalan saja, sebelum aku teringat kalau aku lupa membawa tabir suryaku. Jadi diiringi keluhan dongkol ibu, aku kembali beranjak ke dalam untuk mengambil tabir surya yang kuletakkan di meja rias kamar. Kegiatan itu menghabiskan waktu lima menit karena begitu aku masuk kembali ke mobil dan melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 07....
It wasn't much, but it was home.