Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Si 70 Persen

Assalamualaikum.

Baru-baru ini, hampir seluruh siswa di angkatan saya, dibuat geger. Dalangnya adalah seorang anak laki-laki dari kelas XII A 1, sebutlah namanya Fulan, yang mendapatkan prediksi PG (passing grade    indikator lulus tidaknya seseorang di fakultas PTN pilihannya pada tes SBMPTN) sebesar 69 koma sekian persen. Akan saya bulatkan menjadi 70%.

Jadi, bahkan sampai hari ini   sudah hampir empat hari   kalau si Fulan ini lewat atau setidaknya berada dalam jarak pandang beberapa siswa kelas 12, para siswa akan berkomentar, "Gak logis, woy! Masa MatIpa sama MatDas bener semua! TPA Numerik sama Figural diisi semua cuma salah satu! Ckck, udah bukan manusia." Sementara yang lain menimpali, "Tapi emang udah pinter dari dulu, woy. Mau dia belajar angot-angotan juga tetep pinter. Gw yang semaleman belajar aja, sama dia yang modal liat catetan temen-temen sekelas sekilas sebelum UH, nilainya lebih gedean dia!"

Bahasa kitanya, kelewat cerdas. Jenius.

Meski begitu, ada satu hal yang saya dengar tentangnya, yang membuat saya kagum sekaligus jadi malu dengan diri sendiri. Di antara begitu banyaknya komentar   ya, karna kelewat takjub juga, saya pun ikut menimpali    ada satu komentar yang terpatri jelas dalam ingatan saya.

"Tapi tau gak, woy, dia ngerjain soal Fisika 270 soal per empat hari!"

Mendengar hal tesebut membuat hati saya jadi jleb sendiri. Saya jadi berpikir, orang yang kelewat cerdas saja, jenius bahkan jika saya menyebutnya, mau untuk melatih dirinya agar sesuai dengan apa yang orang beri julukan kepadanya. Orang yang IQ-nya mungkin di atas rata-rata saja, mau untuk latihan mengerjakan ratusan soal dalam waktu beberapa hari untuk terus mengasah skillnya. Sementara saya? Seseorang yang biasa-biasa saja, ya kok santai benar. Baca webtoon masih lanjut, nonton drama korea masih gak pantangan, kok jadi tidak tahu malu benar.

Hasil gambar untuk ar rad ayat 31
Padahal dalam suatu waktu saya merasa bersalah kepada orang tua saya. Saya yang kepingin masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, justru orang tua saya yang ketar-ketir. Setiap ada promosi bimbel online, atau ketika saya bilang ada rekomendasi buku bagus untuk SBMPTN, atau bahkan juga jika saya mengungkapkan keinginan untuk ikut try out SBMPTN yang setiap ikut itu biayanya bisa sampai 30rb an, jawaban mereka tetap sama saja, "Ya udah, sana. Ikutin aja semuanya. Kami doain yang terbaik untuk kamu."

Mendengar cara Fulan mendapatkan nilai yang sedemikian, jadi membuat saya termotivasi. InsyaAllah, untuk berubah ke arah yang lebih baik. Karena jikalau tiap malam saya berdoa pun, tanpa diiringi dengan ihtiar yang maksimal, hasilnya akan nihil. Ibaratnya kamu ingin menyebrangi laut, tapi menunggu tumpangan datang menjemput kamu, bukannya berusaha sendiri untuk bisa membuat sesuatu yang bisa membantumu menyebrangi laut itu. Kapal, misalnya.

Kamis,16/11/2017
Si Puyuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SI Itu Sistem Informasi, Bukan Sastra Inggris

 Assalamualaikum. Wah, ternyata udah lama banget nggak nulis di sini. Dan nggak kerasa juga, gue udah sampe di penghujung waktu kelulusan (aamiinn, doain aja ye) dari fakultas tercinta gue ini. Asekk.. setelah sekian lama nyimpen ketidaksukaan, akhirnya gue  surrender  juga. Berasa jadi kayak enemy to lovers   relationship  gini sama fakultas sendiri. Yah, kalo dibandingin sama post 1 Desember 2019 lalu yang katanya pengennya masuk Sastra Inggris sih, sekarang gue justru bersyukur banget nggak jadi masuk di jurusan itu, awokwowkwk. Pengalaman ngambil matkul eksternal di fakultas sebelah bener-bener ngerubah cara gue memandang "keberuntungan gue diterima di fakultas gue" sendiri. Gue masih nggak gitu suka kalo ketemu error  pas lagi ngoding, tapi anehnya, gue mulai merasakan kesenangan tersediri dalam proses ngulak-ngulik kode yang gue bikin. Dan lebih seneng banget lagi kalo kodingan gue berhasil, hehehe. Terus Alhamdulillah-nya, temen-temen satu angkatan g...

The Lamp Looks Weird..

Siang ini aku akan mulai menjalani sesi klasikal dalam rentetan agenda Latsar CPNS Tahun 2025 di Megamendung, Bogor. Sementara aku sibuk menyiapkan segala perlengkapan yang harus aku bawa, di sisi lain rumah, ibuku tengah menyiapkan bekal makanan untuk perjalanan kami ke sana. Ya,  kami , karena di luar, sembari memanaskan mesin mobil, ayahku terlihat menyempatkan diri untuk menyiram tanamannya terlebih dahulu sebelum kami berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.11 ketika semua barang telah masuk ke bagasi mobil belakang. Kucingku, Nyunyun, bahkan sudah santai memposisikan dirinya seperti biasa di atas dasbor mobil. Kami benar-benar tinggal jalan saja, sebelum aku teringat kalau aku lupa membawa tabir suryaku. Jadi diiringi keluhan dongkol ibu, aku kembali beranjak ke dalam untuk mengambil tabir surya yang kuletakkan di meja rias kamar. Kegiatan itu menghabiskan waktu lima menit karena begitu aku masuk kembali ke mobil dan melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 07....
It wasn't much, but it was home.